DIBAWAH LANGIT SENJA
Sore itu bel sekolah berbunyi, menendakan kalau waktu pulang sekolah sudah tiba. Andi yang waktu itu berjalan dibelakangku, menarik tanganku sambil berlari. Tanpa pikir panjang aku mengikutinya dengan berlari pula. Cukup jauh kami berlari hingga meninggalkan teman-temanku yang lain. Tiba-tiba langkah kaki yang tadinya cepat lama-kelamaan mulai melambat. Dan langkah yang melambat itu mulai berhenti. Dengan wajah tampak kelelahan dia menoleh kebelakang, tepatnya menoleh ke arahku.
"Kamu capek?" tanyanya dengan nafas yang masih terengah-engah."Sedikit" jawabku yang sebenarnya begitu lelah. "Duduklah, dan jangan kemana-mana!" katanya menyuruhku duduk disebuah bangku taman, kemudian dia meninggalkanku. Sebenarnya aku juga belum pernah pergi ke taman ini sebelumnya karena tempatnya yang tidak begitu kukenal dan menurutku taman ini tidak begitu bagus. Disaat aku sedang beristirahat karena kelelahan sehabis lari tadi, Andi datang dengan membawa sebuah botol aqua besar. Spontan aku berdiri dan bertanya kepadanya, "Untuk apa kau beli botol air minum yang besar itu?" "Ya untuk minum lah bodoh, kau pasti haus karena habis lari tadi kan?" jawabnya dengan wajah cuek. "Baik banget sih.. makasih" jawabku yang langsung mengambil botol air minum itu dari tangannya.
"Kamu gak mau minum? nih.." tanyaku sembari menawarinya minum, "Gak" jawabnya singkat. "Trus ngapain kesini?" tanyaku lagi dengan nada yang agak sinis, "Gak ngapa-ngapain" jawabnya lagi dengan wajah cuek yang semakin membuatku kesal. "Udah capeknya?" tanyanya serius, aku hanya mengangguk. Lalu dia memasukkan botol aqua itu kedalam tasnya. "Sudah hampir jam empat sore, sebaiknya kita bergegas" katanya sambil menggandeng tanganku. Aku mengikutinya tanpa berkata, hingga ditengah perjalanannya ku beranikan diri untuk bertanya "Sebenarnya kita mau kemana?". Dia berhenti dan menoleh, "Kesuatu tempat yang selalu kau impikan". Mendengar kata-katanya itu aku terdiam dan mulai berfikir. Banyak sekali hal yang sebenarnya ingin ku tanyakan, tetapi sengaja ku pendam semua pertanyaan ini.
Hampir 30 menit kami berjalan tanpa bicara, melewati jalan setapak yang sedikit menanjak tetapi tidak terjal. Hingga akhirnya dia yang bicara terlebih dahulu "Kita hampir sampai". Kemudian dia melanjutkan langkahnya dengan senyum penuh harapan. Aku tetap saja diam dengan wajah yang semakin penasaran.
Tiba-tiba dia menghentikan langkahnya dan berbalik menghadapku. Dia menutup mataku dan menuntunku, hingga aku merasakan jalan yang aku lewati tak lagi menanjak. Kudengar dia berbisik ditelingaku, "Buka matamu secara perlahan". Aku membuka mataku seiring dia membuka telapak tangannya. Betapa terkejutnya aku ketika yang kulihat adalah tempat yang begitu indah, tempat dimana kita bisa telepas sejenak dari padatnya kota. Perlahan aku mulai berjalan maju selangkah demi selangkah. Kurasakan semilir angin yang meniup wajahku dengan lembut, kurasakan sinar matahari yang condong ke arah barat. Sinar yang begitu indahnya, begitu memberikan ketenangan.
Hingga suara Andi membangunkan lamunanku, suaranya yang terdengar begitu lembut. Suara yang lain dari biasanya, suara yang tak biasa kudengar. Dia berbisik dengan suara yang sangat lembut, "Happy Birthday.. ini adalah hadiah yang mungkin tak bernilai jika dibandingkan dengan hadiah yang diberikan oleh teman-temanmu yang lain, tapi ini adalah hadiah dariku, orang yang selalu ada untukmu. Aku harap kau tak kan melupakan hadiah sederhana dariku ini, orang yang menyayangimu, yang mencintaimu."
Sekali lagi kejutan yang diberikannya kepadaku hari ini. Aku tak pernah menyangka bahwa Andi, sahabatku yang selama ini setia mendengarkan celotehanku dan orang yang aku anggap sebagai orang yang super duper cuek di sekolah adalah orang yang selama ini selalu memperhatikanku, menghiburku dan membuatku bahagia bila ada disisihnya. Dia merasakan perasaan yang sama denganku, perasaan yang lebih dari sekedar teman dan sahabat. Aku membuka mata dan tersenyum kepadanya, dan kali ini aku melihat senyum yang sangat manis, tentunya sebuah senyuman yang tak pernah aku lihat sebelumnya. Hari itu adalah hari yang paling indah yang pernah ada di hidupku, my sweet seventeen bersama Andi dibawah indahnya langit senja.

0 komentar:
Posting Komentar